Tahura Pancoran Mas

Taman Hutan Rakyat (Tahura) Pancoran Mas

Sumber: Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Depok Tahun 2009.

Salah satu aset keanekaragaman hayati yang dimiliki Kota Depok dan merupakan kebanggaan masyarakat Depok adalah Cagar Alam atau Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas seluas 7 ha yang kini tengah diupayakan untuk dimiliki dan dikelola sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Depok. Berdasarkan UU No. 22 tahun 1999 pula, Tahura Pancoran Mas diserahkan sepenuhnya oleh Pemerintah Derah Tingkat I Jawa Barat kepada Pemerintah Kota Depok untuk dikelola dan dimanfaatkan sesuai dengan azas-azas konservasi yang berlaku.

Tahura Pancoran Mas Depok merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang ada di Indonesia yang berfungsi sebagai kawasan konservasi flora dan fauna yang terdapat di dalamnya. Kawasan tersebut berfungsi pula sebagai kawasan penyangga bagi daerah sekitarnya. Seperti halnya kawasan konservasi lainnya, tahura pun dapat dimanfaatan sebagai tempat menyimpan koleksi tumbuhan asli dan atau bukan asli, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, budaya, pariwisata dan rekreasi. Sehubungan dengan upaya optimalisasi fungsi, pada akhir 2008, Pemerintah Kota Depok telah mengadakan gerakan penanaman sebanyak 43 jenis tanaman di tahura Pancoran Mas. Diharapkan dengan adanya penambahan koleksi tanaman ini, selain sebagai kawasan hijau, Tahura Pancoran Mas dapat pula membantu dalam upaya konservasi berbagai macam tanaman langka dan dilindungi.

Taman Hutan Raya Pancoran Mas juga merupakan bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) yang lebih dikenal dengan nama hutan kota yang berfungsi meminimalisasi pencemaran udara yang berlebihan, peningkatan suhu, keterbatasan air bersih, terganggunya siklus hidrologi dan lain sebagainya, yang timbul sebagai konsekuensi dari pembangunan dan kemajuan teknologi.

Sejalan dengan perjalanan waktu, kemajuan teknologi dan pembangunan wilayah, Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas yang dahulu merupakan kawasan hutan yang lebat, pada saat ini terhimpit oleh gedung-gedung dan pemukiman penduduk, sehingga sebagian besar dari masyarakat banyak melupakan arti penting keberadaan Tahura Pancoran Mas tersebut. Hal tersebut tentu saja pada akhirnya dapat menurunkan minat dan kepedulian masyarakat, khususnya masyarakat Kota Depok, terhadap keberadaan dan fungsi tahura tersebut.

Disadari atau tidak, dengan semakin padatnya kota dan sejalan dengan proses pembangunan, kawasan ini akan memiliki nilai yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan perkotaan baik sebagai penyedia air tanah, pencegah banjir, penyerap dan penjerap karbon, penghasil udara segar, pengatur iklim mikro serta tempat rekreasi masyarakat perkotaan. Oleh karena itu pengembangan Taman Hutan Raya Pancoran Mas dalam jangka panjang harus mampu memberikan manfaat yang nyata.

Sebagaimana layaknya kawasan hutan, Taman Hutan Raya Pancoran Mas belum memberikan manfaat yang optimal bagi keseimbangan lingkungan perkotaan. Kondisi penutupan lahan berupa semak belukar yang hanya didominasi oleh liana dengan sedikit pepohonan, sebagian areal ditanami oleh tanaman perkebunan, pagar kawasan beralih fungsi menjadi tempat menjemur pakaian dan dibeberapa sudut menjadi tempat pembuangan sampah, menjadikan kawasan terlihat kumuh dan kotor. Sehingga fungsi kawasan sebagai kawasan pelestarian alam dan juga RTH atau hutan kota milik Kota Depok menjadi tidak maksimal.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis di lapangan, diketahui beberapa potensi dan kendala yang dimiliki Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas Depok. Potensi (state) dan kendala (pressure) yang dimiliki merupakan faktor yang penting sebagai dasar pertimbangan dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan tersebut.

Tahura Pancoran Mas memiliki potensi yang didukung oleh keberaadaan keanekaragaman hayati di dalamnya, yaitu:

a. Vegetasi (struktur dan komposisi vegetasi)

Bila dilihat dari struktur dan komposisi vegetasi yang ada di dalam Kawasan Tahura Pancoran Mas dapat dilihat bahwa kawasan ini mempunyai tipe penutupan lahan strata B yaitu mempunyai ketinggian antara 14 – 18 meter, untuk jenis tumbuhan berkayu didominasi oleh jenis dari famili Dipterocarpaceae, yaitu untuk jenis Meranti sp. Jika dilihat dari penutupan tajuk yang ada di dalam kawasan ini memiliki tajuk yang begitu terbuka sehingga sinar matahari langsung masuk kedalam kawasan dan berfungsi sebagai perangsang laju pertumbuhan bagi tingkat tumbuhan bawah, liana serta tingkat anakan sehingga banyak sekali tumbuhan bawah yang menutupi permukaan hutan atau lantai hutan. Dari hasil analisis vegetasi yang dilakukan di hasilkan ± 254 jenis ditemukan di dalam kawasan ini dari semua tingkat pertumbuhan, dimana dari 23 jenis merupakan Liana dan mendominasi 90 % dari luas kawasan.

a) Tumbuhan bawah dan liana

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2006 dan pengamatan yang dilakukan oleh Tim Penyusun SLHD Depok 2009 dari Universitas Indonesia pada pertengahan tahun 2009, didapat jenis-jenis tumbuhan liana yang tumbuh di kawasan Tahura Pancoran Mas sebagai berikut: Seserehan, Rarambatan, Gadung, dan Cipatuheur. Sedangkan pada tingkat pertumbuhan tumbuhan bawah yang telah teridentifikasi adalah: rotan, pakis hutan, dan rumput gagajahan.

b) Semai

Pada tingkat semai terdapat beberapa jenis yang telah teridentifikasi, dari kurang lebih 33 jenis yang ditemukan, seperti: meranti, waru, kanyere.

c) Pancang

Pada pertumbuhan tingkat pancang, diketemukan kurang lebih 22 jenis, dimana jenis-jenis yang mendominasi dan sudah teridentifikasi meliputi: waru, meranti, kanyere, dan jambu air.

d) Tiang

Pada pertumbuhan tingkat tiang diketemukan kurang lebih 12 jenis, dimana yang mendominasi dan sudah teridentifikasi adalah: meranti, waru, dan laban.

e) Pohon

Pada pertumbuhan tingkat pohon diketemukan kurang lebih 24 jenis, dengan jenis-jenis yang mendominasi dan sudah teridentifikasi adalah: meranti, waru, jambu, dan kluwih.

b. Satwa Liar

Satwa liar yang hidup Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas sebagian besar adalah dari jenis-jenis burung dan beberapa dari kelas mamalia kecil maupun besar seperti monyet, reptilia dan amfibi. Jenis burung yang terdapat di kawasan Tahura Pancoran Mas merupakan jenis umum yang biasanya terdapat di daerah hutan dataran rendah dan semak. Rendahnya keanekaragaman jenis satwa tersebut sangat dimungkinkan akibat rusaknya atau hilangnya sebagian dari habitat satwaliar tersebut.

Jenis-jenis burung yang masih bisa dijumpai adalah burung jogjog, ciblek, cingcuing, kipasan, dan perenjak. Jenis reptilia yang ditemukan adalah jenis ular tanah dan ular sanca. Jenis mamalia khususnya mamalia kecil yang banyak diketemukan adalah jenis kelelawar. Dari klas amfibi, di kawasan Tahura Pancoran Mas saat ini masih ditemukan katak pohon/katak terbang. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar, di dalam kawasan ini banyak terdapat jenis ular kobra, phyton, ular pucuk kepala merah dan kucing hutan, serta masih banyak lagi jenis lainnya seperti biawak dan musang. Menurut informasi lainnya, kawasan ini dahulunya pernah menjadi habitat bagi satwaliar lain seperti kijang, harimau Jawa, monyet, kancil, rusa, bangau putih, atau kelinci hutan. Tetapi sekarang mereka hanya kerap melihat puluhan ekor ular (kebayakan sanca putih), kadal, tupai, dan burung-burung.

Selain memiliki potensi keanekaragaman hayati, Taman Hutan Raya Pancoran Mas juga memiliki potensi lain yang pada hakekatnya sangat mendukung keberadaannya sebagai kawasan konservasi, seperti:

a) Keberadaan Tahura Pancoran Mas bagi Kota Depok sebagai hutan kota bagi kota tersebut, seiring dengan semakin berkembangnya Kota Depok dan semakin meningkatnya kebutuhan penduduk kota akan suatu ruang hijau yang menyediakan suatu produk dalam menunjang lingkungan hidup yang bersih, sejuk, indah dan sehat.

b) Memiliki topografi relatif datar serta ruang yang proposional sehingga memudahkan dalam mobilitas pengelolaan serta pengembangan kawasan.

c) Aksesibilitas yang mudah dijangkau dari pusat Kota Depok.

d) Letaknya yang berada pada wilayah pengembangan Kota Depok, serta kota besar DKI Jakarta dan kota lainnya seperti Bogor, dan Bekasi, maka tidak mustahil apabila kedepannya kawasan tersebut menjadi tujuan wisata khususnya ekowisata.

e) Besarnya motivasi masyarakat sekitar tahura untuk terlibat dalam menjaga kawasan, apabila pengembangannya kearah yang lebih baik dan sudah diimplementasikan dengan sebenarnya.

Namun dalam upaya optimalisasi fungsi, Pemerintah Kota Depok menemui beberapa kendalan dan permasalahan yang terdapat di kawasan Tahura Pancoran Mas, antara lain meliputi:

a) Ekosistem

i. Kondisi ekosistem di Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas kurang mendukung keseimbangan struktur vegetasi baik secara vertikal maupun horizontal.

ii. Kondisi ekosistem tersebut di atas, pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya fenomena-fenomena seperti: berkurangnya kemampuan kawasan dalam mengatur siklus hidrologi, penyerap gas karbon dan polutan-polutan udara lalinnya serta kebisingan, dan pengatur iklim mikro.

b) Vegetasi

i. Rendahnya kenekaragaman vegetasi dengan struktur tegakan pohon sehingga kawasan Tahura Pancoran Mas didominasi oleh tumbuhan bawah dan liana yang tumbuh subur, yang pada akhirnya akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan semai.

ii. Proses pertumbuhan pohon-pohon terhambat karena yang tempat tumbuhnya yang sebagian besar diselimuti oleh liana (dengan penutupan 90 %).

c) Satwa Liar

Banyaknya kegiatan perburuan, khususnya perburuan terhadap jenis burung dan ular, mengakibatkan rendahnya tingkat keanekaan keduanya, yang pada akhirnya dapat mengganggu kestabilan ekosistem di kawasan Tahura Pancoran Mas .

d) Pariwisata

Pemerintah Kota Depok nampaknya belum memiliki perencanaan dan kebijakan serta strategi dalam rangka pengembangan dan pengelolaan pariwisata di kawasan Tahura Pancoran Mas. Kondisi ini pada akhirnya dapat mengakibatkan kawasan tersebut tidak dapat berfungsi lagi, baik secara ekonomis maupun ekologis. Hal tersebut dimungkinkan, karena dengan kondisi yang tidak tertata, akan mengakibatkan terganggunya kestabilan ekosistem dan keanekaragaman hayati di dalam kawasan pun menjadi tidak seimbang, sehingga ditinjau secara estetis kawasan tersebut tidak lagi memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan fungsi ekologisnya pun menjadi tidak optimal. Selain itu, karena struktur sosial masyarakat yang beragam, baik dilihat dari latar belakang pendidikan, mata pencaharian, maupun asal tempat tinggal, mengakibatkan persepsi masyarakat terhadap kawasan cukup beragam pula. Rendahnya bentuk persepsi masyarakat, khususnya dari para kaum muda, terhadap kawasan menyebabkan kawasan ini terlepas dari pandangan mereka tentang fungsi dan manfaat dari kawasan tersebut.

e) Pola Penggunaan Lahan

i. Sebagian masyarakat sekitar mengadakan kegiatan pembukaan lahan untuk dijadikan lahan kebun serta pekarangan masyarakat.

ii. Masyarakat sekitar ada yang memanfaatkan lahan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangganya, sehingga menimbulkan pemandangan dan bau yang tidak sedap.

iii. Pada beberapa sudut kawasan, terlihat pagar pembatas kawasan dijadikan tempat menjemur pakaian dan memelihara ternak.

iv. Pemanfaatan yang bersifat negatif yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu sebagai tempat menjemur pakaian, tempat pembuangan sampah, sebagai pangkalan roda tiga maupun roda empat, serta kebun. Hal tersebut tentu saja dapat menjadi ancaman bagi keutuhan kawasan pada masa sekarang maupun akan datang.

f) Aksesibilitas

Akses menuju Tahura Pancoran Mas harus melewati beberapa lokasi kemacetan di Kota Depok; selain itu lokasi kawasan juga tidak nampak dari jalan utama di Kota Depok, sehingga kawasan tersebut sulit dijangkau dan ditemui oleh masyarakat luar maupun dalam Kota Depok sendiri.

Gambar 2.10: Taman Hutam Rakyat d Wilayah Kota Depok.

D:\2 FOTO-FOTO SLHD 2009\FOTO TAMBAHAN SLHD 2009 MIDO\TAHURA 2009\DSC02220.JPG

Pintu gerbang masuk Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas dan papan peringatan yang dapat ditemui di dalam lingkungan Tahura

D:\SLHD2008 NDAY-baru\P1010412.JPGD:\SLHD2008 NDAY-baru\Beberapa jenis vegetasi.JPG

Beberapa jenis vegetasi yang dilindungi, yang dapat dijumpai di Tahura Pancoran Mas-Kota Depok (Agustus, 2009)

Beberapa jenis tanaman yang baru ditanam di lingkungan Tahura, dalam rangka program penghijauan di Kota Depok (Agustus 2009)

D:\2 FOTO-FOTO SLHD 2009\FOTO TAMBAHAN SLHD 2009 MIDO\TAHURA 2009\DSC02234.JPGD:\2 FOTO-FOTO SLHD 2009\FOTO TAMBAHAN SLHD 2009 MIDO\TAHURA 2009\DSC02232.JPG

Meskipun sudah terdapat peraturan untuk tidak membuang sampah di lokasi Tahura namun kenyataannya masih ada warga yang menjemur pakaian bahkan membuang sampah padahal telah disediakan tempat sampah (Agustus, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: