3. Pemanfaatan RTH

PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN

BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN

3.1. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan

RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran,  pertokoan, dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2, peredam kebisingan,  dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri, serta memberikan  keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. Selain fungsi tersebut, RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut:

a. RTH Pekarangan

Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan, maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya.

RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat  utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan, sayur, dan bunga).

Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau  sempit, RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat  keluarga/apotik hidup, dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika  sebuah rumah. Untuk efisiensi ruang, tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal.

b. RTH Halaman Perkantoran, Pertokoan, dan Tempat Usaha

RTH pada halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha, selain tempat  utilitas tertentu, dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka, carport, dan  tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara, bazar, olah raga, dan lain-lain.

3.2. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman

RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut:

a. RTH Taman Rukun Tetangga

Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut.

Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut, fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak.

Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial, RTH Taman Rukun  Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup, sayur, dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga.

Gambar 3.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga

Gambar 3.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga

b. RTH Rukun Warga

RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja,  kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut.

Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan, baik olahraga  maupun aktivitas lainnya, beberapa unit bangku taman yang dipasang secara  berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga, dan  beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.

Gambar 3.3 Contoh Taman Rukun Warga

c. RTH Kelurahan

RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan.

Taman ini dapat berupa taman aktif, dengan fasilitas utama lapangan olahraga  (serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif,  dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya  duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon  tahunan.

Gambar 3.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)

Gambar 3.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)

d. RTH Kecamatan

RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan.

Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga,  dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan  yang lebih bersifat pasif, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut:

Gambar 3.6 Contoh Taman Kecamatan

3.3. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan

a. RTH Taman Kota

RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai  kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini dapat  berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi,  taman bermain (anak/balita), taman bunga, taman khusus (untuk lansia), fasilitas  olah raga terbatas, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.

Gambar 3.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat)

b. Hutan kota

Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga  lingkungan kota (pelestarian, perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah, keanekaragaman hayati).

Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat  (secara terbatas, meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau  membaca, atau aktivitas yang aktif seperti jogging, senam atau olahraga ringan  lainnya), wisata alam, rekreasi, penghasil produk hasil hutan, oksigen, ekonomi  (buah-buahan, daun, sayur), wahana pendidikan dan penelitian. Fasilitas yang  harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman, sirkulasi pejalan kaki/ jogging track.

Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa  misalnya burung, yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol  populasi serangga. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota.

c. Sabuk Hijau

Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua  kota, sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih  tersebut. Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan  terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut.

d. RTH Jalur Hijau Jalan, Pulau Jalan dan Median Jalan

Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH, juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota.

Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air,  juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota.

e. RTH Jalur Pejalan Kaki

RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai:

  • Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun  aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya;
  • Sebagai penyeimbang temperatur, kelembaban, tekstur bawah kaki, vegetasi,  emisi kendaraan, vegetasi yang mengeluarkan bau, sampah yang bau dan terbengkalai, faktor audial (suara) dan faktor visual.

f. RTH di Bawah Jalan Layang

Selain sebagai daerah resapan air, RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur  estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai:

  • Lokasi penempatan utilitas seperti drainase, gardu listrik, dan lain-lain;
  • Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan;
  • Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas.

3.4. RTH Fungsi Tertentu

a. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api

RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan  terhadap jalur lalu lintas kereta api. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta  api maupun masyarakat di sekitarnya, maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut:

a) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam, sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat;
b) Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya;
c) Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan;
d) Membuat saluran drainase.

b. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi

Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia, sehingga RTH  pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan  kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu  dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut.

c. RTH Sempadan Sungai

Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi,  perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi, pelestarian,  peningkatan fungsi sungai, mencegah okupasi penduduk yang mudah  menyebabkan erosi, dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan, perizinan, dan pemantauan.

Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya.

Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung, pada zona  sungai danau, waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan.

Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan:

a) budi daya pertanian rakyat;
b) kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C;
c) papan penyuluhan dan peringatan, serta rambu-rambu pekerjaan;
d) pemasangan rentangan kabel listrik, kabel telpon, dan pipa air minum;
e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api;
f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial, keolahragaan,  pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau; dan
g) pembangunan prasarana lalu lintas air, bangunan pengambilan dan pembuangan air.

Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan  sungai, maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut:

a) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan;
b) Mengamankan kawasan sempadan sungai, serta penutupan vegetasi di  sempadan sungai, dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan  langsung dan analisis deskriptif komparatif. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai;
c) Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan, keanekaragaman  vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan  metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan  analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat;
d) Memantau fluktuasi debit sungai maksimum;
e) Aktivitas memantau, menghalau, menjaga dan mengamankan harus diikuti   dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait  sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya.

d. RTH Sempadan Pantai

RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana  yang ditimbulkan gelombang laut, juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak bertentangan dengan Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan  Kawasan Lindung;
  • Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai, termasuk gangguan terhadap kualitas visual;
  • Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi, erosi,  melindungi dari ancaman gelombang pasang, wildlife habitat dan meredam angin kencang;
  • Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat;
  • Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. 32 Tahun 1990.

e. RTH Sumber Air Baku/Mata Air

Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan,  pelestarian, peningkatan fungsi sumber air baku/mata air, dan pengendalian daya  rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan, perizinan, dan pemantauan.

Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut:

f. RTH Pemakaman

Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk  penguburan jenasah. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk  menambah keindahan kota, daerah resapan air, pelindung, pendukung ekosistem,  dan pemersatu ruang kota, sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: