2. Penyediaan RTH

PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN

BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN

2.1. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

a. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah

Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:

  • ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat;
  • proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri  dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat;
  • apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah  memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.

Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan  ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan  mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan  udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap  melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A.

b. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk

Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk, dilakukan dengan  mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku.

c. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu

Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan, sarana  dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam, pengaman  pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu.

RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau jaringan  listrik tegangan tinggi, RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH  sempadan sungai, RTH sempadan pantai, dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.

2.2. Arahan Penyediaan RTH

2.2.1 Pada Bangunan/Perumahan

a. RTH Pekarangan

Pekarangan adalah lahan di luar bangunan, yang berfungsi untuk berbagai  aktivitas. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar  bangunan (KDB) di kawasan perkotaan, seperti tertuang di dalam PERDA  mengenai RTRW di masing-masing kota. Untuk memudahkan di dalam  pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai:

a.1. Pekarangan Rumah Besar

Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut:

  1. kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2;
  2. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan  (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat;
  3. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga)  pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput.

a.2. Pekarangan Rumah Sedang

Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut:

  1. kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2;
  2. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan  (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat;
  3. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua)  pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu, serta penutup tanah dan atau rumput.

a.3. Pekarangan Rumah Kecil

Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut:

  1. kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2;
  2. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan  (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat;
  3. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu)  pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu, serta penutup tanah dan atau rumput.

Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit,  tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya.

b. RTH Halaman Perkantoran, Pertokoan, dan Tempat Usaha

RTH halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha umumnya berupa  jalur trotoar dan area parkir terbuka. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot;
  2. Perkantoran, pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%,  memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm;
  3. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran, pertokoan dan  tempat usaha dengan KDB dibawah 70%, berlaku seperti persyaratan  pada RTH pekarangan rumah, dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan.

c. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden)

Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas, maka untuk RTH dapat  memanfaatkan ruang terbuka non hijau, seperti atap gedung, teras rumah,  teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan, dan lain-lain  dengan memakai media tambahan, seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia.

Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat  kota, atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan  yang sangat terbatas, RTH dapat disediakan pada atap bangunan. Untuk  itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis  memungkinkan. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah:

  1. struktur bangunan;
  2. lapisan kedap air (waterproofing );
  3. sistem utilitas bangunan;
  4. media tanam;
  5. pemilihan material;
  6. aspek keselamatan dan keamanan;
  7. aspek pemeliharaan
  • peralatan
  • tanaman

 

Gambar 2.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden

Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman  yang tidak terlalu besar, dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan  baik pada media tanam yang terbatas, tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air.

2.2.2 Pada Lingkungan/Permukiman

a. RTH Taman Rukun Tetangga

Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani  penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT, khususnya untuk melayani kegiatan  sosial di lingkungan RT tersebut. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per  penduduk RT, dengan luas minimal 250 m2. Lokasi taman berada pada  radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani.  Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% – 80%  dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman,  juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

b. RTH Taman Rukun Warga

RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman  yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW, khususnya kegiatan  remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan masyarakat lainnya  di lingkungan RW tersebut. Luas taman ini minimal 0,5 m2 per penduduk  RW, dengan luas minimal 1.250 m2. Lokasi taman berada pada radius  kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.

Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% – 80%  dari luas taman, sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai  tempat melakukan berbagai aktivitas. Pada taman ini selain ditanami  dengan berbagai tanaman sesuai keperluan, juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

c. RTH Kelurahan

RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk  melayani penduduk satu kelurahan. Luas taman ini minimal 0,30 m2 per  penduduk kelurahan, dengan luas minimal taman 9.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan.

Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% – 90%  dari luas taman, sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai  tempat melakukan berbagai aktivitas. Pada taman ini selain ditanami  dengan berbagai tanaman sesuai keperluan, juga terdapat minimal 25  (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk  jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif.

d. RTH Kecamatan

RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan  untuk melayani penduduk satu kecamatan. Luas taman ini minimal 0,2 m2  per penduduk kecamatan, dengan luas taman minimal 24.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan.

Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% – 90%  dari luas taman, sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai  tempat melakukan berbagai aktivitas. Pada taman ini selain ditanami  dengan berbagai tanaman sesuai keperluan, juga terdapat minimal 50  (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk  taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif.

2.2.3 Kota/Perkotaan

a. RTH Taman Kota

RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk  satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000  penduduk dengan standar minimal 0,3 m2 per penduduk kota, dengan luas  taman minimal 144.000 m2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH  (lapangan hijau), yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga,  dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% – 90%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.

Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan, perdu, dan semak  ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan.

b. Hutan Kota

Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk:

a. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika;
b. Meresapkan air;
c. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota; dan
d. Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia.

Hutan kota dapat berbentuk:

a. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi  terkonsentrasi pada satu areal, dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan;
b. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu,  dengan luas minimal 2500 m. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar  terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil;
c. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% – 100% dari luas hutan kota;
d. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur  mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lain sebagainya. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m.

Struktur hutan kota dapat terdiri dari:

a. Hutan kota berstrata dua, yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput;
b. Hutan kota berstrata banyak, yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan  selain terdiri dari pepohonan dan rumput, juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan.

Gambar 2.2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2

Gambar 2.3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak

Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.

Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus:

dengan:

La adalah luas hutan kota yang harus dibangun
P0 adalah jumlah penduduk
K adalah konsumsi air/kapita (lt/hari)
R adalah laju peningkatan pemakaian air
C adalah faktor pengendali
PAM adalah kapasitas suplai air perusahaan
t adalah tahun
Pa adalah potensi air tanah
z adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air

Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan  metode Gerakis (1974), yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988), sebagai berikut:

dengan:

Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2)
Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t
Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t
Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t
54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.
0,9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0,9375 gram
2 adalah jumlah musim di Indonesia

c. Sabuk Hijau

Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga  dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota,  pemisah kawasan, dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan  aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu, serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya.

Sabuk hijau dapat berbentuk:

  • RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan  lahan tertentu, dipenuhi pepohonan, sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah;
  • Hutan kota;
  • Kebun campuran, perkebunan, pesawahan, yang telah ada  sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum, dipertahankan keberadaannya.

Fungsi lingkungan sabuk hijau:

  • Peredam kebisingan;
  • Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari;
  • Penapis cahaya silau;
  • Mengatasi penggenangan; daerah rendah dengan drainase yang kurang  baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk.
  • Penahan angin; untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai  penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur, lebar jalur.
  • Mengatasi intrusi air laut; RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan  resapan air, sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan.
  • Penyerap dan penepis bau;
  • Mengamankan pantai dan membentuk daratan;
  • Mengatasi penggurunan.

d. RTH Jalur Hijau Jalan

Untuk jalur hijau jalan, RTH dapat disediakan dengan penempatan  tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas  jalan. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman, perlu memperhatikan 2  (dua) hal, yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya.  Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta tingkat evapotranspirasi rendah.

Gambar 2.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan

Pulau Jalan dan Median Jalan

Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti  pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa  jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Median  atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH.

a. Pada jalur tanaman tepi jalan

1) Peneduh

a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m dari tepi median);
b) percabangan 2 m di atas tanah;
c) bentuk percabangan batang tidak merunduk;
d) bermassa daun padat;
e) berasal dari perbanyakan biji;
f) ditanam secara berbaris;
g) tidak mudah tumbang.

Contoh jenis tanaman:

a) Kiara Payung ( Filicium decipiens)
b) Tanjung ( Mimusops elengi)
c) Bungur ( Lagerstroemia floribunda)

Gambar 2.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh

2) Penyerap polusi udara

a) terdiri dari pohon, perdu/semak;
b) memiliki kegunaan untuk menyerap udara;
c) jarak tanam rapat;
d) bermassa daun padat.

Contoh jenis tanaman:

a) Angsana ( Ptherocarphus indicus)
b) Akasia daun besar ( Accasia mangium)
c) Oleander ( Nerium oleander)
d) Bogenvil ( Bougenvillea Sp)
e) Teh-tehan pangkas ( Acalypha sp)

Gambar 2.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara

3) Peredam kebisingan

a) terdiri dari pohon, perdu/semak;
b) membentuk massa;
c) bermassa daun rapat;
d) berbagai bentuk tajuk.

Contoh jenis tanaman:

a) Tanjung ( Mimusops elengi)
b) Kiara payung ( Filicium decipiens)
c) Teh-tehan pangkas ( Acalypha sp)
d) Kembang Sepatu ( Hibiscus rosa sinensis)
e) Bogenvil ( Bogenvillea sp)
f) Oleander ( Nerium oleander)

Gambar 2.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan

4) Pemecah angin

a) tanaman tinggi, perdu/semak;
b) bermassa daun padat;
c) ditanam berbaris atau membentuk massa;
d) jarak tanam rapat < 3 m.

Contoh jenis tanaman:

a) Cemara ( Cassuarina equisetifolia)
b) Mahoni ( Swietania mahagoni)
c) Tanjung ( Mimusops elengi)
d) Kiara Payung ( Filicium decipiens)
e) Kembang sepatu ( Hibiscus rosasinensis)

Gambar 2.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin

5) Pembatas pandang

a) tanaman tinggi, perdu/semak;
b) bermassa daun padat;
c) ditanam berbaris atau membentuk massa;
d) jarak tanam rapat.

Contoh jenis tanaman:

a) Bambu ( Bambusa sp)
b) Cemara ( Cassuarina equisetifolia)
c) Kembang sepatu ( Hibiscus rosa sinensis)
d) Oleander (Nerium oleander)

Gambar 29 Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang

b. Pada median

Penahan silau lampu kendaraan

a) tanam man perdu/semak;
b) ditanam rapat
c) ketinggian 1,5 m
d) bermassa daun padat.

Contoh jen

a) Bogenvil ( Bogevillea sp)
b) Kembang sepatu ( Hibiscus rosasinensis)
c) Oleander (Nerium oleander)
d) Nusa Indah (Mussaenda sp)

Gambar 2.10 Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan

c. Pada Persimpangan Jalan

Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan, antara lain:

1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan

Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar  tidak menghalangi pandangan pemakai jalan. Untuk daerah  bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman  yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk  persimpangannya. (lihat buku “Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. 02/T/BNKT/1992).

2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan

Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri  dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Penempatan dan  pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan  dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami  tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi.  Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk  tanaman perdu dengan ketinggian <0.80 m, dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah, misalnya:

  • Soka berwarna-warni (Ixora stricata)
  • Lantana (Lantana camara)
  • Pangkas Kuning (Duranta sp)
Gambar 2.11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang

b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau  kanal yang dimungkinkan untuk ditanami, sebaiknya  digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan  agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.

c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah, misalnya:

1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem

Contoh:

  • Palem raja ( Oreodoxa regia)
  • Pinang jambe ( Areca catechu)
  • Lontar (siwalan) ( Borassus flabellifer)

2) Tanaman pohon bercabang > 2 m

Contoh:

  • Khaya ( Khaya Sinegalensis)
  • Bungur ( Lagerstromea Loudonii)
  • Tanjung ( Mimosups Elengi)

e. RTH Ruang Pejalan Kaki

Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada  kiri-kanan jalan atau di dalam taman. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut:

1) Kenyamanan, adalah cara mengukur kualitas fungsional yang ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu:

  • Orientasi, berupa tanda visual ( landmark, marka jalan) pada  lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar;
  • Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang  dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian, kehadiran penghambat  fisik, kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat.

2) Karakter fisik, meliputi:

  • Kriteria dimensional, disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya  setempat, kebiasaan dan gaya hidup, kepadatan penduduk, warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan;
  • Kriteria pergerakan, jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat  umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan, kondisi  cuaca, kebiasaan dan budaya. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m.
Gambar 2.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki

3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu  pada Kepmen PU No. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998,  tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan  Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki.

f. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang

Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka:

a) sebagai area resapan air;
b) agar area di bawah tertata rapi, asri, dan indah;
c) menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma;
d) menghindari permukiman liar;
e) menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik;
f) memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku.

Gambar 2.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang

Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang  waktu dan relatif tahan kekurangan air, serta berukuran tidak terlalu besar, mengingat keterbatasan tempat.

g. RTH Fungsi Tertentu

RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta  api, RTH jaringan listrik tegangan tinggi, RTH sempadan sungai, RTH  sempadan pantai, RTH sempadan danau, RTH pengamanan sumber air baku/mata air.

g.1. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api

Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan  RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara  kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. Berkaitan dengan  hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan.

Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut:

a) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus;
b) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul;
c) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian, diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan;
d) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api;
e) Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih  dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan. Dalam  peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada  jalur tanah yang bebas, yang secara berangsur–angsur melebar  dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m;
f) Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada  butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3,5 m;
g) Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel  kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta  api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan  raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari  11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya.

g.2. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi

Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut:

a) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik;
b) Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan  SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut:

g.3. RTH Sempadan Sungai

RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri  dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi  sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya.

Sesuai peraturan yang ada, sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul.

a) Sungai bertanggul:

  1. Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan  perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;
  2. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan  perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;
  3. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya,  tanggul dapat diperkuat, diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai;
  4. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara, maka lahan  yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat  dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan.

b)  Sungai tidak bertanggul:

  1. Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut:
    a) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3  m, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan;
    b) Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m  sampai dengan 20 m, garis sempadan ditetapkan  sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan;
    c) Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m,  garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.
  2. Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut:
    a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah  pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih,  penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m;
    b) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah  pengaliran sungai kurang dari 500 km2, penetapan  garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.
  3. Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan  2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan  mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan.
  4. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan  dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan,  dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus  menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai.
  5. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1)  tidak terpenuhi, maka segala perbaikan atas kerusakan  yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan.

Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut, jalur hijau  terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai.

g.4. RTH Sempadan Pantai

RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas  pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak  menggangu kelestarian pantai. RTH sempadan pantai merupakan  area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan  oleh gelombang laut seperti intrusi air laut, erosi, abrasi, tiupan angin  kencang dan gelombang tsunami. Lebar RTH sempadan pantai  minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% – 100%.

Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Tidak bertentangan dengan Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
b) Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai, termasuk gangguan terhadap kualitas visual;
c) Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya  abrasi, erosi, melindungi dari ancaman gelombang pasang, wildlife habitat dan meredam angin kencang;
d) Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat.

Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan  dapat membantu proses pengendapan lumpur. Beberapa jenis  tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp,  Sonneratia spp, Rhizophora spp, Bruguiera spp, Lumnitzera spp, Excoecaria spp, Xylocarpus spp, Aegiceras sp, dan Nypa sp.

Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air  laut atau merupakan daerah payau dan asin, pemilihan vegetasi  diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian  dengan kondisi tersebut. Asam Landi ( Pichelebium dulce) dan Mahoni  (S witenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba, Tanjung, Kiputri, Angsana, Trengguli, dan Kuku.

Gambar 2.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai

g.5. RTH Sumber Air Baku/Mata Air

RTH sumber air meliputi sungai, danau/waduk, dan mata air. Untuk  danau dan waduk, RTH terletak pada garis sempadan yang  ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Untuk mata air, RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air.

Gambar 2.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air

g.6. RTH Pemakaman

Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping  memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga  memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat  pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta  tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.

Untuk penyediaan RTH pemakaman, maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut:

a) ukuran makam 1 m x 2 m;
b) jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0,5 m;
c) tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan;
d) pemakaman dibagi dalam beberapa blok, luas dan jumlah  masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat;
e) batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya;
f) batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi  antara pagar buatan dengan pagar tanaman, atau dengan pohon pelindung;
g) ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan  minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya.

Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga  untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan.

2.3. Kriteria Vegetasi RTH

2.3.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan

a. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar, Pekarangan Rumah Sedang, Pekarangan Rumah Kecil, Halaman
Perkantoran, Pertokoan, dan Tempat Usaha

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) memiliki nilai estetika yang menonjol;
b) sistem perakaran masuk ke dalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan;
c) tidak beracun, tidak berduri, dahan tidak mudah patah, perakaran tidak mengganggu pondasi;
d) ketinggian tanaman bervariasi, warna hijau dengan variasi warna lain seimbang;
e) jenis tanaman tahunan atau musiman;
f) tahan terhadap hama penyakit tanaman;
g) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara;
h) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung.

b. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman;
b) relatif tahan terhadap kekurangan air;
c) perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan;
d) tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi;
e) mudah dalam pemeliharaan.

2.3.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota

Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut:

a) tidak beracun, tidak berduri, dahan tidak mudah patah, perakaran tidak mengganggu pondasi;
b) tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
c) ketinggian tanaman bervariasi, warna hijau dengan variasi warna lain seimbang;
d) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah;
e) kecepatan tumbuh sedang;
f) berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya;
g) jenis tanaman tahunan atau musiman;
h) jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal;
i) tahan terhadap hama penyakit tanaman;
j) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara;
k) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

2.3.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) memiliki ketinggian yang bervariasi;
b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung;
c) tajuk cukup rindang dan kompak;
d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara;
e) tahan terhadap hama penyakit;
f) berumur panjang;
g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air;
h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri;
i) batang dan sistem percabangan kuat;
j) batang tegak kuat, tidak mudah patah;
k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor;
l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati, agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah;
m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun ( decidous);
n) memiliki perakaran yang dalam.

2.3.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

  • Peredam kebisingan; untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi  berdaun rapat. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik.
  • Ameliorasi iklim mikro; tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang  cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radias energi matahari.
  • Penapis cahaya silau; peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya.
  • Mengatasi penggenangan.
  • Penahan angin; untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai  penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur, lebar jalur.
  • Mengatasi intrusi air laut; tanaman yang dipilih adalah yang daya  evapotranspirasinya rendah. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni ( Swietenia mahagoni ) dan Asam Landi ( Pichecolobium dulce).
  • Penyerap dan penepis bau; jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat  melokalisir bau dan menyerap bau. Beberapa spesies tanaman seperti  Cempaka (Michelia champaca), Kenanga ( Cananga odorata), dan Tanjung ( Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum.
  • Mengamankan pantai dan membentuk daratan; sabuk hijau ini dapat  berupa formasi hutan mangrove, yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai.
  • Mengatasi penggurunan; sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi  lebar dan panjang, yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan  angin, dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir.

Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut:

  • Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin,  akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen;
  • Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya;
  • Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik;
  • Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin;
  • Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi, dengan dahan yang kuat namun cukup lentur;
  • Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. Kerapatan yang kurang,  tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen;
  • Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah, sehingga mampu menutup secara baik.

2.3.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan

a. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan, dan RTH Jalur Pejalan Kaki

Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut:

1) Aspek silvikultur:

a) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit;
b) memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar;
c) perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang;
d) batang tegak dan keras pada bagian pangkal;
e) tajuk simetris dan padat;
f) sistim perakaran padat.

2) Sifat biologi:

a) tumbuh baik pada tanah padat;
b) sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan;
c) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa;
d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia;
e) batang dan sistem percabangan kuat;
f) batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir;
g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah;
h) tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon;
j) daun sebaiknya berukuran sempit ( nanofill );
k) tidak menggugurkan daun;
l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang;
m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan;
n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung;
o) sebaiknya tidak berduri atau beracun;
p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain;
q) tahan terhadap hama penyakit;
r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri;
s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara;
t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi;
u) berumur panjang.

b. Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

  1. tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen;
  2. tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh;
  3. relatif tahan kekurangan air;
  4. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan;
  5. sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara;
  6. dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu

a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) tumbuh baik pada tanah padat;
b) sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan;
c) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa;
d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia;
e) batang dan sistem percabangan kuat;
f) batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir;
g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah;
h) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang;
i) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung;
j) tahan terhadap hama penyakit;
k) berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH  rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masing-masing.

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan  keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau  mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan  struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

a) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m;
b) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi

Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi;
b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya
bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah;
c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang;
d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar;
e) merupakan pohon dengan katagori kecil ( small tree);
f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa;
g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia;
h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan;
i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia;
j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%);
k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman  vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan  gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap  penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan.

c. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah;
b) tumbuh baik pada tanah padat;
c) sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan;
d) kecepatan tumbuh bervariasi;
e) tahan terhadap hama dan penyakit tanaman;
f) jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan;
g) tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
h) berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya;
i) dominasi tanaman tahunan;
j) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada  RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka  pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing.

Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut:

a) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai);
b) sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m  diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai;
c) sebelum di lapangan, penempatan petak sampel dilakukan secara  awalan acak ( random start) pada peta. sampel jalur hijau sungai  berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh;
d) sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman;
e) untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m;
f) jarak maksimal dari pantai adalah 100 m;
g) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

d. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut;
b) sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai, tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang;
c) batang dan sistem percabangan yang kuat;
d) toleransi terhadap kondisi air payau;
e) tahan terhadap hama dan penyakit tanaman;
f) bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai.
e. Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) relatif tahan terhadap penggenangan air;
b) daya transpirasi rendah;
c) memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam, sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air.

Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan  vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah.

Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain  (Manan, 1976 dan Kurniawan, 1993): Cemara Laut ( Casuarina  equisetifolia), Karet Munding (Ficus elastica), Manggis ( Garcinia  mangostana), Bungur ( Lagerstroemia speciosa), Kelapa (Cocos nucifera), Damar ( Agathis loranthifolia), Kiara Payung ( Filicium decipiens).

f. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman

Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:

a) sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan;
b) batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir;
c) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi, atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung;
d) tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
e) tahan terhadap hama penyakit;
f) berumur panjang;
g) dapat berupa pohon besar, sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang;
h) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

2.4. Ketentuan Penanaman

2.4.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam

Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung  cukup unsur hara. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah  harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman  pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari.

2.4.2 Penanaman

Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat;
b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm;
c) masukkan tanah di sekeliling bola akar, kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah, dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam, dan tanah
yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman;
d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang, diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon, dengan ujung
diikat pada batang pohon;
e) tanaman disiram secukupnya.

2.4.3 Pemeliharaan Tanaman

a. Pemupukan

Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan  sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. Pupuk yang diberikan pada  tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya  NPK atau urea). Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK.

b. Penyiraman

Tujuan penyiraman tanaman, selain untuk menyeimbangkan laju  evapotranspirasi, juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis.

Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat  dibutuhkan. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore  hari. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan  tanah, tidak pada permukaan daun tanaman. Untuk daerah dengan  kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari, dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan.

Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah, dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup.

c. Pemangkasan

Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan  tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan  tanaman. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa  pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk.

Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan:

1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon:

Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang, dahan dan ranting yang retak, patah, mati atau berpenyakit.

2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman:

  • Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang, dahan dan ranting, yang dapat mengancam keamanan pengguna taman.
  • Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian  ranting dan dahan pohon sekitar 2,5 m dari permukaan tanah. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu  dipangkas, kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/  kebakaran, juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon.

3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan:

  • Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang, dahan dan ranting, yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan.
  • Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman  diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3,5 m dari permukaan tanah.
  • Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas  dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4,5-5 m dari permukaan tanah.

4) Pemangkasan untuk tujuan estetis:

Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan  tanaman lebih baik atau lebih indah. Dengan memperhatikan jenis dan  kerapatan daun, maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman  dengan bentuk-bentuk tajuk spiral, silindris, kubus, bulat, piramida, dan lain sebagainya.

2.4.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan, baik berupa serangga, molusca  maupun hewan lainnya seperti burung, kambing, kelinci dan sebagainya.

Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, nematoda dan penyakit fisiologis.

a. Gejala Serangan

Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari   kerusakan bagian tanaman, seperti bentuk daun, bunga maupun buah   yang tidak sempurna. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis,   berlubang, berubah warna dan penampilan tidak menarik. Secara kasat   mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva, ulat, maupun imagonya.

Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar, layu, bercak daun, karat,   mozaik dan sebagainya. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium.

b. Cara Pengendalian

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina, mekanis, fisik, teknik budidaya, biologi dan kimiawi.

5 Comments on “2. Penyediaan RTH”

  1. nn Says:

    Tulisanya bagus, terima kasih

  2. Irsyad Razk Says:

    nice infonya buat urban planner

  3. putra Says:

    tank’s

  4. eka irma Says:

    maaf blh izin copy paste data gag smwx bwt bahan diskripsi


  5. Terimakasih atas informasi yang sangat bermanfaat.

    Salam,

    Helmut Simamora
    BLH dan Litbang Kab. Samosir


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: