Berita RTH Tahun 2011

Januari 2011

RTH Depok Belum Maksimal

Sabtu, http://republika.co.id:8080/ 29 Januari 2011

BEJI – Sekalipun keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Depok sudah memenuhi kualifikasi pemerintah, namun pengelolaan RTH tersebut masih belum maksimal.

Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Tata Ruang Dan Permukiman Kota Depok Bambang Supoyo menyebutkan, luas RTH yang dimiliki Kota Depok mencapai 31 persen dari luas seluruh kota. Luas ini sudah melebihi ketentuan yang digariskan pemerintah yang mencapai 30 persen.

Namun, sayangnya lahan ini belum dikelola dengan maksimal. Bambang mencontohkan, sempadan di situ-situ di Kota Depok semestinya di sekitarnya tidak boleh ada bangunan sepanjang 50 meter. “Namun, pada kenyataannya, masih banyak bangunan yang berdiri di sekitar sempadan,” kata Bambang, Jumat (28/1).

Hal ini disebabkan oleh hak kepemilikan tanah di sekitar situ yang masih dimiliki oleh masyarakat. “Ini adalah salah satu kendala kami dalam mengelola RTH. Masih banyak daerah sempadan yang tanahnya dimiliki oleh masyarakat. Padahal, sempadan ini dapat dimanfaatkan menjadi taman atau tempat santai warga. Kalau ada bangunan, tempat itu pasti berkurang,”

Selain itu, lanjut Bambang, belum ada anggaran untuk mengelola sempadan-sempadan ini. Tentu bukanlah hal yang murah untuk melakukan pembebasan tanah. “Tidak seperti di kabupaten, hampir semua tanah di Depok sudah ada yang punya, termasuk tanah-tanah di lokasi sempadan situ. Supaya dapat dimaksimalkan, tanah ini harus dibeli dan dibebaskan. Hal itu tidak mudah,” papar Bambang.

Ditambahkannya, semestinya setiap bangunan harus memiliki ruang hijau di sekitarnya. Adapun luas ruang hijau ini bergantung di area mana bangunan tersebut dibangun. Pembedaannya dilihat dari daya tampung dan pertumbuhan penduduk di daerah tersebut, serta banyak pertimbangan lain.

Sesuai Koefisien Dasar Bangunan (KDB, kata Bambang, hanya 75 persen bangunan boleh didirikan dari seluruh luas lahan di daerah pusat kota seperti di Margonda. Sisanya dipakai untuk taman atau lahan hijau.

Sedangkan daerah yang lebih sedikit penduduknya diperbolehkan mendirikan bangunan hanya 45 sampai 60 persen saja. “Seperti misalnya ada satu hektar tanah terletak di Margonda. Tanah tersebut hanya boleh didirikan bangunan seluas enam ribu meter persegi, selebihnya taman,”. c02 ed: joko sadewo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: