Ismayadi Samsoedin dan Endro Subiandono

PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN KOTA1

Oleh : Ismayadi Samsoedin2) dan Endro Subiandono2)

1 Makalah Utama pada Ekspose Hasil-hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Padang, 20 September 2006
2 Peneliti pada Kelti Konservasi Sumberdaya Alam, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor

Sumber: http://docs.google.com/www.dephut.go.id/

ABSTRAK

Kota merupakan tempat para warga melangsungkan berbagai aktivitasnya, sehingga pengembangannya mestinya diarahkan agar dapat memenuhi tuntutan kebutuhan fisik dan spiritual. Tapi banyak ditemukan suatu kota yang perencanaannya dilakukan secara kurang memadai, sehingga menjadi lesu, sakit, dan semrawut. Langkah Pemerintah Kota Padang yang kini bernaksud mengembangkan Hutan Kota termasuk Ruang Terbuka Hijau (RTH), karenanya perlu mendapat apresiasi. Dengan dibentuknya ruang-ruang terbuka hijau tersebut, dapat disusun suatu jaringan RTH-kota yang berfungsi meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang nyaman, segar, bersih, sehat, dan indah. Di samping memperhitungkan aspek luas, bentuk, dan tipe Hutan Kota, keberhasilan pengembangan Hutan Kota ini akan sangat ditentukan oleh adanya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat serta pengaturannya dituangkan dalam Peraturan Daerah.

Kata kunci : Hutan kota, bentuk, tipe dan peranan

I. PENDAHULUAN

Kesadaran akan pentingnya mempertahankan Ruang Terbuka Hijau (RTH)  yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Padang perlu diapresiasi mengingat  minimalnya upaya ke arah itu di tempat lain namun kepentingannya sudah sangat  mendesak di kota-kota besar. Pembangunan Hutan Kota di Padang direncanakan  di Delta Malvinas yang design engineering-nya disusun oleh Badan Penelitian dan  Pengembangan Kehutanan adalah hasil kerjasama regional antar instansi dalam  rangka meningkatkan upaya pelestarian biodiversitas tanaman yang berfungsi ekologis dalam menanggulangi permasalahan lingkungan dan udara di kota.

Seperti diketahui bahwa pembangunan infrastruktur perkotaan di Indonesia  akhir-akhir ini menunjukkan perencanaan yang kurang baik. Pembangunan  gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, perumahan, pabrik, dan  sebagainya kurang memperhatikan aspek tata ruang kota. Kebutuhan akan  pembangunan infrastruktur dan terbatasnya ketersediaan lahan nampaknya  menjadi salah satu faktor terjadinya disintegrasi dalam pembangunan di perkotaan.  Konsekuensi logis atas keadaan tersebut adalah semakin sempitnya lahan yang tersisa untuk kawasan hijau.

Kondisi lingkungan hidup yang makin buruk seperti pencemaran udara,  peningkatan suhu, penurunan air tanah, dan lain-lain khususnya di perkotaan  menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologi. Oleh karena itu, upaya-upaya  pengendalian perlu segera dilakukan. Salah satu alternatif yang dapat memberikan  dampak signifikan dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup di perkotaan adalah melalui program pembangunan dan pengelolaan Hutan Kota.

II. PENGERTIAN HUTAN KOTA

Hutan Kota adalah pepohonan yang berdiri sendiri atau berkelompok atau  vegetasi berkayu di kawasan perkotaan yang pada dasarnya memberikan dua  manfaat pokok bagi masyarakat dan lingkungannya, yaitu manfaat konservasi dan manfaat estetika.

Sementara dalam hasil rumusan Rapat Teknis Kementerian Kependudukan  dan Lingkungan Hidup di Jakarta pada bulan Februari 1991, dinyatakan bahwa  Hutan Kota adalah suatu lahan yang tumbuh pohon-pohonan di dalam wilayah  perkotaan di dalam tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai  penyangga lingkungan dalam hal pengaturan tata air, udara, habitat flora dan  fauna yang memiliki nilai estetika dan dengan luas yang solid merupakan ruang  terbuka hijau, serta areal tersebut ditetapkan oleh pejabat berwenang sebagai Hutan Kota.

Adapun di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun  2002 tentang Hutan Kota, disebutkan bahwa Hutan Kota adalah suatu hamparan  lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah  Perkotaan, baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai Hutan Kota oleh pejabat yang berwenang.

III. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN HUTAN KOTA

Kota merupakan tempat warga menyelenggarakan berbagai aktivitasnya,  karena itu perlu dikembangkan untuk memenuhi tuntutan fisik maupun spiritual  yang terus meningkat. Dalam menentukan arah kebijakan pengembangannya  perlu dibuatkan pola perencanaan berdasarkan data yang ada dan kebutuhan  yang harus dipenuhi suatu kota. Kota dengan perencanaan yang kurang memadai akan menjadi lesu, sakit, dan semrawut.

Kesadaran pemerintah akan perlunya pengelolaan lingkungan di perkotaan  sudah berlangsung cukup lama. Apalagi semenjak dilombakannya gelar Adipura  bagi kota yang bersih, maka gerakan kebersihan dan penataan kota mulai memasyarakat.

Suatu langkah yang tepat jika Pemerintah Kota Padang kini bermaksud  mengembangkan Hutan Kota. Pembangunan Hutan Kota di Padang telah sejalan  dengan kebijakan Pemerintah Kota yang tertuang dalam salah satu misinya yaitu  “pemanfaatan sumberdaya alam yang optimal dan berwawasan lingkungan”.  Pembangunan Hutan Kota juga untuk memberikan citra Kota Padang yang pada  1980 berlangganan mendapat piala Adipura dan Adipura Kencana dengan kota  yang selalu bersih, indah, dan nyaman. Namun kondisi tersebut akhir-akhir ini  telah merosot, Kota Padang menjadi sangat panas dengan suhu udara pada siang hari 34,50C dan malam hari 31,00C.

Karena hal tersebut, Pemerintah Kota Padang bertekad memperbaiki Kota  Padang sebagai kota yang bersih, indah, dan nyaman melalui berbagai program,  antara lain K3 (ketertiban, kebersihan, dan keindahan) sehingga mencapai kota  yang tertib, aman, lancar, sehat, bersih, dan indah. Pembangunan Hutan Kota dan  jalur hijau merupakan upaya terobosan untuk menurunkan panas dan  meningkatkan kenyamanan, keserasian, dan keindahan. Jenis-jenis pohon  penghasil buah komersial yang ditanam juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Beberapa kebijakan Pemerintah Kota Padang yang terkait dan sejalan  dengan pembangunan Hutan Kota antara lain dituangkan dalam Perda I/1985  tentang Kebersihan Kota, Perda No. 1/1990 tentang Tata Bangunan, dan Perda 5/1995 tentang Ruang Terbuka Hijau Kota Padang.

A. Bentuk Hutan Kota

Sesuai dengan peruntukannya, Hutan Kota dapat dibangun dalam beberapa bentuk, di antaranya :

  • Ruang hijau pertamanan kota
  • Ruang hijau rekreasi kota
  • Ruang hijau stadion olah raga
  • Ruang hijau pemakaman
  • Ruang hijau pertanian
  • Ruang jalur hijau (green belt)
  • Ruang hijau taman hutan raya
  • Ruang hijau kebun binatang
  • Ruang hijau hutan lindung
  • Ruang hijau areal penggunaan lain (APL)
  • Ruang hijau kebun raya
  • Ruang hijau kebun dan halaman di lingkungan perumahan, perkantoran,
    pertokoan, pabrik, terminal dan, sebagainya.

Dengan dibentuknya ruang-ruang terbuka hijau tersebut, maka dapat disusun  suatu jaringan RTH kota sebagai pendukung ekosistem lingkungan perkotaan  yang berfungsi meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang nyaman, segar, bersih, sehat, dan indah.

Dalam suatu unit ekosistem seperti kawasan Hutan Kota, ruang-ruang terbuka  hijau dapat diatur berdasarkan fungsi dan penggunaannya sesuai dengan  penataan tata kota dan bangunan sekitarnya; sebagaimana dicontohkan pada Gambar 1.

1. Tipe Hutan Kota

Tipe Hutan Kota yang akan dibangun di suatu kawasan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat serta tujuan dari dibangunnya Hutan Kota.

Berdasarkan kriteria tersebut maka tipe Hutan Kota dapat dibedakan menjadi :

a. Tipe Pemukiman

Hutan Kota di daerah pemukiman dapat berupa taman dengan komposisi  tanaman pepohonan yang tinggi yang dikombinasikan dengan semak dan rerumputan.

b. Tipe Kawasan Industri

Hutan Kota yang dikembangkan di kawasan industri hendaknya memilih jenis-jenis tanaman yang tahan dan mampu menyerap serta menjerap polutan.

c. Tipe Rekreasi dan Keindahan

Rekreasi pada kawasan Hutan Kota bertujuan menyegarkan kembali kondisi  yang jenuh dengan kegiatan rutin melalui sajian alam yang indah, segar, dan penuh ketenangan.

d. Tipe Pelestarian Plasma Nutfah

Hutan konservasi mengandung tujuan untuk mencegah kerusakan  perlindungan dan pelestarian terhadap sumberdaya alam. Bentuk Hutan Kota  yang memenuhi kriteria ini antara lain taman hutan raya, kebun raya, dan  kebun binatang. Ada dua sasaran pembangunan Hutan Kota untuk pelestarian plasma nutfah, yaitu :

    1. Sebagai koleksi plasma nutfah, khususnya pengembangan vegetasi secara ex-situ.
    2. Sebagai habitat, khususnya untuk satwa yang dilindungi atau yang akan dikembangkan sesuai dengan perkembangan vegetasi.

e. Tipe Perlindungan

Areal kota dengan mintakat kelima yaitu daerah dengan kemiringan yang  cukup tinggi dan ditandai oleh adanya tebing-tebing curam ataupun daerah  tepian sungai, yang perlu dijaga dengan membangun Hutan Kota agar terhindar dari bahaya erosi dan tanah longsor.

f. Tipe Pengaman

Hutan Kota tipe pengaman berbentuk jalur hijau di sepanjang tepi jalan bebas  hambatan. Tanaman perdu yang liat dan dilengkapi dengan jalur pohon  pisang dan tanaman merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan dapat  menahan kendaraan yang keluar dari jalur jalan karena pecah ban, patah stir atau pengemudi mengantuk.

2. Peranan Hutan Kota

Hutan Kota mempunyai beberapa peranan penting di antaranya :

a. Identitas Kota

Hutan Kota dapat menggambarkan identitas kota melalui koleksi jenis  tanaman dan hewan yang merupakan simbol atau lambang suatu kota di areal Hutan Kota tersebut.

b. Pelestarian Plasma Nutfah

Hutan Kota dapat dijadikan tempat koleksi keanekaragaman hayati yang  tersebar di seluruh wilayah tanah air kita. Kawasan Hutan Kota dapat  dipandang sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi, karena pada areal tersebut dapat dilestarikan flora dan fauna secara ex-situ.

c. Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara

Tajuk pohon yang ada di areal Hutan Kota dapat membersihkan partikel padat  yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi melalui proses jerapan dan  serapan, sehingga udara kota menjadi lebih bersih. Partikel padat yang  melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel)  pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan mempunyai  permukaan yang kasar, seperti daun bunga matahari, waru, Ficus sp., dan  kersen. Sebagian lagi akan terserap masuk ke dalam ruang stomata daun.  Selain di daun, maka partikel padat ini juga akan menempel pada kulit batang, ranting, dan cabang.

d. Penyerap dan Penjerap Partikel Timbal dan Debu Industri

Hutan Kota dengan jenis-jenis tanaman yang sesuai mempunyai kemampuan untuk menyerap dan menjerap partikel timbal dan debu industri seperti

Gambar 1. Contoh pengaturan ruang terbuka hijau dalam sistem zonasi kawasan
Hutan Kota Delta Malvinas, Kota Padang

semen. Sumber utama timbal yang mencemari udara berasal dari kendaraan  ber motor. Jenis-jenis tanaman yang mempunyai kemampuan yang sedang  hingga tinggi dalam menurunkan kandungan timbal dari udara adalah damar  (Agathis alba), mahoni (Swietenia macrophylla), jamuju (Podocarpus  imbricatus), pala (Myristica fragrans), asam landi (Pithecelobium dulce), dan  johar (Cassia siamea). Sedangkan tanaman yang memiliki ketahanan yang  tinggi terhadap pencemaran debu semen dan memiliki kemampuan yang  tinggi dalam menjerap (adsorbsi) dan menyerap (absorbsi) debu semen adalah mahoni, bisbul, kenari, meranti merah, kere paying, dan kayu hitam.

e. Peredam Kebisingan

Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara  oleh daun, cabang, dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk  meredam suara adalah yang mempunyai tajuk tebal dengan daun yang  rindang. Dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95% (Grey  and Deneke, 1978). Dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan  berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah.

f. Mengurangi Bahaya Hujan Asam

Menurut Smith (1985), pohon dapat membantu mengatasi dampak negatif  hujan asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi,  yang menghasilkan beberapa unsur-unsur seperti Ca, Na, Mg, K, dan bahan  organik seperti glutamin dan gula (Smith, 1981). Menurut Henderson et at.  (1977) bahan inorganik diturunkan ke lantai hutan dari tajuk daun lebar  maupun daun jarum melalui proses through fall dengan urutan K > Ca > Mg > Na. Hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3 jika tiba di permukaan daun  akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai basah, maka asam  seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca pada daun membentuk garam  CaSO4 yang bersifat netral. Adanya proses intersepsi dan gutasi oleh  permukaan daun akan sangat membantu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak berbahaya lagi bagi lingkungan.

g. Penyerap Karbon-monoksida

Mikroorganisme dan tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik  dalam menyerap gas ini. Inman et al. dalam Smith (1981) mengemukakan,  tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang  semula konsentrasinya sebesar 120 ppm menjadi hampir mendekati nol dalam tiga jam.

h. Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen

Hutan (termasuk di dalamnya Hutan Kota) merupakan penyerap gas CO2 dan  penghasil 02 yang cukup penting, selain fitoplankton, ganggang, dan rumput  laut di samudera. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh tumbuhan di  areal Hutan Kota melalui proses fotosintesis untuk merubah gas CO2 dan air  menjadi karbohidrat dan oksigen. Tanaman yang baik sebagai penyerap gas  CO2 dan penghasil O2 adalah damar (Agathis alba), daun kupu-kupu  (Bauhinia purpurea), lamtorogung (Leucaena leococephala), akasia (Acasia auriculiformis), dan beringin (Ficus benjamina) (Widyastarna, 1991).

i. Penahan Angin

Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin berupa Hutan Kota (Panfilov dalam Robinette, 1983).

j. Penyerap dan Penapis Bau

Tanaman dapat menyerap bau secara langsung atau menahan angin yang  bergerak dari sumber bau (Grey dan Deneke, 1978). Akan lebih baik hasilnya  jika ditanam tanaman yang menghasilkan bau harum yang dapat menetralisir  bau busuk dan menggantinya dengan bau harum, seperti cempaka, dan tanjung.

k. Mengatasi Penggenangan

Daerah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang  mempunyai kemampuan evapotranspirasi tinggi, yaitu tanaman berdaun  banyak sehingga luas permukaan daunnya tinggi dan mempunyai banyak  stomata (mulut daun). Tanaman yang memenuhi kriteria tersebut di antaranya  nangka (Artocarpus integra), albizia (Paraserianthes falcataria), Acacia vilosa,  lndigera galegoides, Dalbergia spp., mahoni (Swietenia spp.), jati (Tectona grandis), kihujan (Samanea saman), dan lamtoro (Leucaena leucocephala).

l. Mengatasi lntrusi Air Laut

Intrusi air laut dapat diatasi dengan upaya peningkatan kandungan air tanah  melalui pembangunan hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah.

m. Produksi Terbatas

Hutan Kota dapat ditanami dengan jenis-jenis tanaman yang dapat  dimanfaatkan buah, bunga, daun, dan kayunya untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan penghasilan masyarakat secara terbatas.

n. Ameliorasi Iklim

Salah satu masalah yang cukup merisaukan penduduk kota adalah berkurangnya kenyamanan akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan. Untuk  mengatasi hal itu, Hutan Kota dapat dibangun agar pada siang hari tidak terlalu panas sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan  layang, dan sebagainya; dan sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat  karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik dari bumi (Grey dan Deneke,  1978). Jumlah pantulan radiasi matahari suatu Hutan Kota sangat dipengaruhi  oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca, dan posisi lintang (Robinette, 1983).

o. Pengelolaan Sampah

Hutan Kota dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan sampah, antara lain  sebagai penyekat bau, penyerap bau, pelindung tanah hasil bentukan  dekomposisi dari sampah, dan penyerap zat berbahaya yang mungkin terdapat dalam sampah seperti logam berat, pestisida, dan lain-lain.

p. Pelestarian Air Tanah

Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hendaknya  ditanami dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang  rendah, dengan sistem perakaran dan serasah yang dapat memperbesar  porositas tanah. Jika terjadi hujan lebat, maka air hujan akan masuk ke dalam  tanah sebagai air infiltrasi dan air tanah serta hanya sedikit yang menjadi air  limpasan. Dengan demikian Hutan Kota dapat membantu mengatasi masalah  pelestarian air tanah. Jenis tanaman yang sesuai di antaranya cemara laut  (Casuarina equisetifolia), Ficus elastica, karet (Hevea brasiliensis), manggis  (Garcinia mangostana), bungur (Lagerstroemia speciosa), Fragraea fragrans, dan kelapa (Cocos nucifera).

q. Penapis Cahaya Silau

Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya tersebut  bergantung pada ukuran dan kerapatannya. Pohon dapat dipilih berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan tajuknya.

r. Meningkatkan Keindahan

Tanaman dengan bentuk, warna, dan tekstur tertentu dapat dipadu dengan  benda-benda buatan seperti gedung, jalan, dan sebagainya untuk mendapatkan komposisi yang baik sehingga menghasilkan keindahan.

s. Habitat Burung

Hutan Kota dapat dikembangkan sebagai habitat burung. Beberapa jenis  burung sangat membutuhkan pohon sebagai tempat mencari makan maupun  sebagai tempat bersarang dan bertelur. Beberapa jenis pohon yang disukai  oleh burung karena buah, nektar, bunga, ijuk, dan batangnya yang menarik di  antaranya kiara, caringin, loa (Ficus spp.), dadap (Erythrina variegata), aren (Arenga pinnata), bambu (Bambusa spp.), dan lain-lain.

t. Mengurangi Stress

Hutan Kota dapat membantu mengurangi stress yang diderita masyarakat  kota akibat kerasnya kehidupan kota melalui kesejukan dan keindahan alam  yang diciptakan selain adanya kicau burung dan hal-hal menarik lainnya dari Hutan Kota.

u. Mengamankan Pantai terhadap Abrasi

Hutan Kota berupa formasi hutan mangrove dapat meredam gempuran ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur di pantai.

v. Merupakan Daya Tarik Wisatawan Domestik Maupun Mancanegara

Hutan Kota yang di dalamnya ditanami dengan pohon yang langka dan unik  (misalnya bunga bangkai) akan menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

w. Sarana Hobi dan Pengisi Waktu Luang

Monotonitas, rutinitas, dan kejenuhan kehidupan di kota besar perlu diimbangi  dengan kegiatan yang bersifat rekreatif. Hutan Kota dapat merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.

IV. PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN KOTA

Aspek penting yang perlu diperhatikan dalam membangun Hutan Kota adalah:  Perencanaan, Kelembagaan dan Organisasi Pelaksanaan, Pemilihan Jenis  Tanaman serta Pemeliharaannya yang secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut:

A. Perencanaan

Berbagai aspek yang perlu dikaji dalam perencanaan, antara lain : lokasi,  fungsi dan pemanfaatan, aspek silvikultur, arsitektur lansekap, sarana dan prasarana serta teknik pengelolaan lingkungan.

Rencana pembangunan Hutan Kota hendaknya meliputi :

  1. Rencana jangka panjang, yang memuat gambaran tentang Hutan Kota yang dibangun serta target dan tahapan pelaksanaannya.
  2. Rencana detail, yang memuat desain fisik atau rancang bangun untuk masing-masing komponen fisik Hutan Kota serta tata letaknya.
  3. Rencana tahun pertama kegiatan meliputi rencana fisik dan biayanya.

B. Kelembagaan dan Organisasi Pelaksanaan

Pembangunan dan pengelolaan Hutan Kota sangat tergantung kepada  perangkat yang tersedia. Sistem pengorganisasian di suatu daerah mungkin  berbeda dengan daerah lainnya. Pengelolaan Hutan Kota pada areal yang  dibebani hak milik diserahkan kepada pemiliknya, namun dalam pelaksanaannya harus memperhatikan petunjuk dari perencanaan dan pengendalian.

C. Pemilihan Jenis Tanaman

Jenis yang ditanam hendaknya dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan  dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh baik dan dapat menanggulangi masalah lingkungan yang muncul di tempat itu dengan baik pula.

1. Penentuan Luas Hutan Kota

Kriteria penentuan luas Hutan Kota dapat dilakukan dengan berbagai cara,  misalnya menurut persentase dari luas kota, penentuan berdasarkan jumlah  penduduk, dan berdasarkan isu ranking yang ada misalnya untuk mengatasi masalah air bersih, untuk pemenuhan kebutuhan oksigen, dan lain sebagainya.

2. Komponen Pendukung

Komponen pendukung yang diperlukan untuk pembangunan dan pengembangan Hutan Kota, antara lain:

a. Peraturan perundangan
b. Ilmu dan teknologi yang memadai
c. Dukungan dari pembuat kebijakan
d. Jasa konsultasi
e. Dukungan masyarakat
f. Kebun bibit
g. Tenaga ahli
h. Pemeliharaan

V. PENUTUP

Lahan yang terbatas di kota-kota seringkali digunakan untuk berbagai  kepentingan yang lebih bersifat komersial yang sebetulnya kurang sesuai dengan  peruntukannya. Di sisi lain, pembangunan kota yang kurang terencana dengan  baik juga telah banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup  yang pada akhirnya dapat menyebabkan turunnya kualitas lingkungan hidup kota.  Hutan Kota merupakan salah satu alternatif yang baik dalam mengatasi masalah  lingkungan hidup di kota. Melalui fungsi dan peranannya yang sangat beragam,  Hutan Kota diharapkan dapat membantu mengatasi pencemaran udara, meredam  kebisingan, menjaga tata air, dan melestarikan plasma nutfah, di samping dapat  juga menghasilkan udara segar serta sebagai sarana pendidikan dan rekreasi bagi masyarakat kota.

Oleh karena itu, dalam pembangunan dan pengembangan Hutan Kota  tersebut tentunya perlu dipertimbangkan berbagai aspek seperti luas, bentuk, dan  tipe Hutan Kota. Di samping itu keberhasilan pembangunan dan pengelolaan  Hutan Kota tersebut akan sangat ditentukan oleh adanya dukungan dari seluruh  lapisan masyarakat serta pengaturannya didasarkan melalui Peraturan Daerah,  sebagaimana yang telah ditempuh oleh Pemerintah Kota Padang dengan  menerbitkan Perda I/1985 tentang Kebersihan Kota, Perda No. 1/1990 tentang Tata Bangunan, dan Perda 5/1995 tentang Ruang Terbuka Hijau Kota Padang.

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, E.N. 1989. Studi Kemampuan Tanaman dalam Menjerap dan Menyerap  Timbal Emisi dari Kendaraan Bermotor. Tesis. Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. 102 p.

_____. 1992. Hutan Kota Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Kerjasama IPB dengan APHI.

Fakuara, Y. 1982. Hutan Kota Ditinjau dari Aspek Nasional. Seminar Hutan Kota DKI Jakarta.

Fakuara, Y., E.N. Dahlan, Y.A. Husin, Ekarelawan, I.A.S. Danur, H. Pringgodigdo  dan Sigit. 1982. Studi Toleransi Tanaman terhadap Pencemar Udara dan  Kemampuannya dalam Menyerap Timbal dari Kendaraan Bermotor.  Makalah Seminar Hasil Penelitian di Universitas Trisakti 30 Nopember 1990, Jakarta. 52 p.

Goldsmith, J.R. dan A.C. Hexter. 1967. Respiratory Exposure to Lead :  Epidemiological and Experimental Dose-response Relationship. Science. Vol. 158 : 132-134.

Grey, G.W. dan F.I. Deneke. 1978. Urban Forestry. John Wiley and Sons.

Gunawan, H. 1996. Hutan Tanaman Industri dan Konservasi Biodiversitas. Prosidings Seminar Sehari Strategi Pembangunan HTI di Sulawesi.

Hernowo, J.B. dan L.B. Prasetyo. 1989. Konsepsi Ruang Terbuka Hijau di Kota sebagai Pendukung Pelestarian Burung. Media Konservasi II (4) : 61-71.

Heyne. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia IV. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

Irawati, R. 1991. Studi Pemilihan 10 Jenis Tanaman untuk Pengembangan Hutan  Perkotaan di Kawasan Pabrik Semen. Skripsi. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Irwan, Z.D. 1997. Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota. CIDES. PT. Pustaka CIDESINDO.

Krishnayya, N.S.R. dan Bedi. 1986. An Effect of Automobile Lead Pollution on Cassia tora and C. occidentalis. J. Environment. Pollut. (Series A). Vol. 40:221.

Manan, S. 1976. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Diktat. Fakultas Kehutanan IPB. 228 p.

Miller, R.W. 1988. Urban Forestry Planning and Managing Urban Greenspaces.  University of Wisconsin, Stevens Point. Prentice Hall, Engglewood Cliffs, New Jersey.

Peraturan Pemerintah RI No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.

Pemerintah Kota Padang. 1985. Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1985 tentang Kebersihan Kota.

Pemerintah Kota Padang. 1990. Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1990 tentang Tata Bangunan.

Pemerintah Kota Padang. 1995. Peraturan Daerah No. 5 Tahun 1995 tentang Ruang Terbuka Hijau Kota Padang.

Robinette, J. 1983. Landscape Planning for Energy Conservation. Van Nostrand Reinhold Co., New York. 224 p.

Samsoedin, I. 1997. Potential Indigenous Plants for Urban Areas. Workshop on  Biodiversity Conservation & Utilization Present Status & Future Directions.  Indonesia-Malaysia, Joint Working Committee on Forestry, Kuala Lumpur.  Seminar Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. 1998. Ruang Terbuka Hijau  Sebagai Wahana Pengembangan Keanekaragaman Puspa dan Satwa di Perkotaan, Jakarta.

Smith, W.H. 1981. Air Pollution and Forest : Interaction between Air Contaminants and Forest Ecosystems. Springer-Verlag, New York. 379 p.

_____. 1985. Forest and Air Quality. J. Forestry. February, 1985 : 84-92.

Widyastama, R. 1991. Jenis Tanaman Berpotensi untuk Penghijauan Kota. Kompas 11 Juli 1991.

Widyastuti, R.P. 2006. Inventarisasi Pohon, Studi Regenerasi Tumbuhan Bawah  dan Manfaatnya Pada Plot Satu Hektar di Taman Nasional Gunung Gede  Pangrango. Tesis. Program Studi Biologi, Program Pasca Sarjana, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Depok.

One Comment on “Ismayadi Samsoedin dan Endro Subiandono”

  1. sofyan hadi lubis Says:

    sgt bemanfaat…
    ^^
    sofyan LUBIS


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: